Toba, antara Sejarah & Mitos “Melewati Toba Dengan Tanya”

Foto Oleh        : Idayy MH
Narasi Oleh     : Rio Jo Werry & Idayy MH

“Di tonga ni tao toba. Adong ma pulo, pulo Samosir
Na so tupa hulupahon. Ai disi do hatubanki”

View Danau Toba dari puncak Bukit Sipiso-piso

Hanya laut yang terlihat diseluruh penjuru, lagu tersebutlah yang terdengar diatas kapal. Disaat angin berdesir lembut membelai kepala. Kapal berjalan dengan tenang saat membawa kami dari dermaga ajibata menuju tanah tujuan. Kerinduan akan toba semakin menancap di kepala dan seorang kawan yang menemani langkah pengembaraan ini. Toba adalah kumpulan pertanyaan-pertanyaan yang harus dijawab. Mungkin terdengar seperti sesuatu yang di dramatisir, tapi bukankah hidup itu sendiri adalah drama yang harus terpecahkan? Drama yang mengandung misteri tersebutlah yang membawa kami sampai saat di kapal ini. Diatas kapal kami hanya bisa membayangkan bagaimana ragam rupa tanah tersebut. Selama ini kami hanya bisa menyaksikan toba dari layar saja. Namun, hari ini kami akan membuktikannya dengan mata kepala sendiri. Toba, kami datang.

Kegiatan pengunjung danau toba ketika saat diatas kapal penyebrangan menuju pulau Samosir

Matahari telah menunjukkan tanda kepulangan disaat kami menginjakkan kaki untuk pertama kali di tanah toba ini. Setelah menikmati indahnya matahari terbenam, hal pertama yang dilakukan adalah mencari tempat penginapan yang sesuai dengan isi saku kami. Tidak sulit mencari penginapan di sekitar danau toba. Akhirnya setelah mencari kami mendapatkan penginapan di daerah Tuk-tuk. Penginapan tersebut cukup nyaman untuk 2 orang petualang kere seperti kami. Setelah menyelesaikan administrasi dan sebagainya, kami kemudian disambut hangat oleh bapak pemilik penginapan. Dengan sedikit perkenalan dan basa-basi akhirnya kami mohon izin kepada bapak pemilik penginapan tersebut masuk kamar untuk beristirahat. Malam disaat bulan menunjukkan keindahannya, dering telepon genggam berbunyi dari dalam kamar, “kau dapat penginapan dimana? Besok pagi kita berjumpa di kedai kopi dekat dermaga”, begitu pesan seorang kawan yang telah berencana menemui kami disaat sampai di toba.

Detail struktur perbukitan-perbukitan disekitar Danau Toba

Pagi disaat matahari mulai tersenyum kami tiba di kedai kopi yang dijanjikan semalam. Setelah sedikit bertanya mengenai kabar, kami menanyakan dongeng toba menurut kepercayaan masyarakat setempat. Konon, di zaman dahulu hiduplah seorang nelayan yang sangat rajin bekerja. Pada suatu pagi, nelayan tersebut pergi ke sungai untuk mencari ikan. Sambil menunggu, nelayan tersebut berdoa, “ya tuhan, semoga aku mendapat ikan banyak hari ini”. Beberapa saat setelah doa, kail yang dilemparkan tadi tampak bergoyang-goyang, dengan sigap ia bersegera menarik kailnya. Melihat hal itu, nelayan tersebut amatlah senang karena ikan yang didapat sangat besar dan cantik sekali. Si nelayan terkejut, ternyata ikan yang ia dapatkan bisa berbicara dan memohon agar tidak ditangkap. Tertegun diam, si nelayan kembali melepaskan ikan tadi dan sejenak saja sang ikan langsung berubah menjadi seorang wanita. Akhirnya si nelayan menikahi wanita ikan tersebut dan memiliki seorang anak yang bernama Samosir. Seiring waktu berjalan, Samosir mendapat perintah dari ibunya untuk mengantarkan makanan kepada ayahnya yang sedang bekerja.

Ditengah perjalanan, karena merasakan lapar Samosir memakan sebagian isi bungkusan makanan itu.

Suasana pelabuhan Ajibata sebelum kapal menyebrang menuju Pulau Samosir

Sang ayah yang semula senang dan gembira melihat bungkusan makanan tersebut langsung berubah menjadi kesal dan marah karena mengetahui si anak memakan. Keluarlah sumpah dari sang ayah kepada anaknya. Dengan seketika terbenamlah daerah tersebut hingga menjadi sebuah danau. Begitulah menurut dongeng yang dipercaya oleh sebagian masyarakat.

Siang hari setelah berjumpa dengan kawan kami mendapat kesempatan untuk berbincang bersama bapak pemilik penginapan tersebut. Kopi terletak diatas meja dan bapak yang biasa dipanggil Pak Sidabutar menghisap rokoknya dengan khitmat. Sejurus kemudian ia berkata; “Beruntunglah kalian diberi kesempatan mengunjungi tanah kami, nak”. Seperti tanpa komando, pak Sidabutar bercerita bahwa apa yang dikatakan oleh pihak luar mengenai kekejaman suku batak toba khususnya di masa lalu tak bisa kita terima begitu saja.

Berkaitan dengan hal yang telah disinggung diatas tadi, ada tuduhan sepihak yang mengatakan bahwa suku Batak Toba di masa lalu. adalah suku yang suka memakan manusia atau dalam istilah lain disebut kanibal. Kini mari kita buktikan, apakah tuduhan tersebut memang benar adanya? Dalam laporan perjalanan seorang misionaris Inggris, Richard Burton dan Nathiel Ward mengatakan, kanibalisme di tanah batak berkaitan dengan penegakan hukum dan tawanan perang. Dua misionaris tersebut bahkan mengatakan pernah melihat dua puluh tengkorak manusia yang masih disimpan di desa Silindung.

View gunung Pusuk Buhit dari menara pandang tele

Senada dengan pandangan Sitor Situmorang dalam bukunya “Toba Na Sae” (2004), cerita orang batak makan orang tidak lebih dari kabar burung dan hal yang dilebih-lebihkan. “Hal-hal seperti itu (orang batak makan orang) kemudian selalu saja diulang-ulang oleh setiap pencatat dari barat tanpa pernah menyaksikannya apalgi membuktikannya”, ujar Sitor lebih lanjut. Dalam tradisi mangokal holi atau memindahkan tengkorak leluhur sudah menjadi kebiasaan untuk orang batak. Hal tersebutlah yang tidak diketahui dan juga tercatat. Tuduhan inilah yang berkembang di benak orang-orang barat sampai akhir abad 19. Sebagai penduduk asli, sebenarnya wajar saja jika orang batak mempunyai kecurigaan terhadap pendatang. Siapapun tentu tak ingin wilayah kekuasaannya diganggu apalagi oleh orang asing. Seperti dalam falsafah hidup orang Minangkabau “dima bumi dipijak, disitu langik dijunjuang”, hal itulah yang seharusnya dipahami oleh siapa saja yang ingin mendatangi tempat baru. Kita bisa mengambil contoh lain, seorang sarjana bahasa Neubronner Van Der Tuuk, seorang yang ditunjuk perkumpalan injil Belanda untuk menerjemahkan bahasa batak ini dapat diterima dengan baik. Meski pada awalnya dia juga turut dicurigai, tapi pada akhirnya Tuuk dapat merebut kepercayaan penduduk Toba pada bulan Juli 1853. Begitulah sedikit kisah bagaimana persinggungan penduduk Batak Toba dengan pendatang. Toba tidaklah menakutkan seperti dalam laporan misionaris barat yang gagal menaklukan hati penduduk toba. Tuduhan tersebut seperti itulah yang harus sama-sama luruskan. Pesona toba sebagai daerah wisata tentunya membawa dampak positif bagi pemerintah, penduduk asli dan pendatang yang ingin menghabiskan waktunya untuk berlibur ke danau indah tersebut.

View dari salah satu sudut Danau Toba

Akhirnya waktu jugalah yang memaksa kami untuk pulang setelah dua hari menikmati indahnya salah satu danau terbesar di Asia Tenggara ini. Kami sebenarnya ingin menghabiskan waktu lebih lama lagi disini. Tapi apa daya keinginan terkadang tak sesuai dengan kenyataan karena kuasa lain lebih mengharuskan kami untuk segera pulang. Toba telah memberi kami jawaban atas pertanyaan yang menancap di kepala saat kami datang. Toba, tetaplah bernyanyi.

 

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *